Senin, 30 Mei 2011

Kerukunan Beragama


Wajah Kerukunan Beragama di Indonesia
(Seharusnya, seperti apa?)
Oleh : M. Lubis Cadiawan

Berkehidupan rukun dan damai merupakan harapan bagi semua umat manusia di muka bumi ini, khususnya masyarakat Indonesia. Merasa nyaman berada di manapun, dan bersama siapa saja adalah satu hal yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia. Disadari apa tidak, kita berkehidupan dalam berkebangsaan yang sangat kompleks. Indonesia memiliki bermacam-macam suku, tradisi, adat, bahasa, dan adanya berbagai-macam agama.

Sebelum kita, jauh membicarakan tentang bagaimana hidup damai di antara penganut berbagai agama di Indonesia, sebaiknya perlu kita ketahui lebih dulu ‘perbedaan dan pertentangan yang bagaimanakah yang terdapat di agama-agama itu sendiri?’

Pertanyaan ini sangat berguna untuk dijadikan bahan pokok, yang selanjutnya menjadi kebijakan pemerintah untuk menghadapi pembangunan dan perkembangan agama-agama yang ada di Indonesia. Selain itu, bisa dimanfaatkan oleh seluruh umat beragama yang ada di Indonesia untuk dijadikan sebuah landasan riil menghadapi perkembangan kehidupan ke depan. Kehidupan di Indonesia yang selalu berbenturan dengan berbagai macam perbedaan yang ada.

Kita perlu terlebih dahulu mengetahui kerukunan tingkat apa saja yang mungkin bisa dicapai di antara umat beragama di Indonesia ini. Mungkinkah dicapai kerukunan tingkat tertinggi, semacam sebuah Unity of Religion?. Kalau bentuk pertentangannya, misalnya berupa perbedaan yang Sub Alternation, menurut logika formil masih mungkin untuk dikompromikan. Tetapi kalau pertentangannya merupakan pertentangan yang Contradiction atau Contrary, maka kompromi dalam bentuk apapun akan sulit dan pasti tidak mungkin terlaksana.

Bentuk pertentangan yang Contrary, bisa kita lihat berupa pertentangan ajaran keagamaan, misalnya mengenai figur seorang Isa antara ajaran yang ada di Islam dan Kristen. Semua umat Kristen mempercayai dan sangat mengimani bahwa figur Isa sebagai TUHAN, tetapi lain bahasanya kalau kita melihat dari sisi Islam. Semua umat Islam tidak mungkin mempercayai bahwa figur Isa sebagai Tuhan, melainkan sebagai Nabi utusan Allah, Tuhan mereka.

Demikian juga mengenai figur Muhammad, terdapat sebuah pertentang yang Contrary , kurang lebih sebagai berikut. Semua umat Islam mempercayai dan mengimani bahwa figur Muhammad adalah Nabi utusan Tuhannya untuk memberikan jalan terbaik umatnya, yaitu Islam. Lain halnya kalau kita bicara di seputar agama Kristen. Semua umat Kristen pastinya tidak mempercayai bahwa Muhammad sebagai seorang Nabi.

Pertentangan Contradiction juga terjadi antara Islam dan Hindu. Sedangkan antara Syi’ah dan Sunni, atau Katolik dengan Protestan, merupakan hanyalah pertentangan sub alternation saja. Di Indonesia sendiri yang masih menjadi sebuah perbincangan dan menyita perhatian adalah adanya semacam singgung-menyinggung antara penganut Islam dan Kristen. Biasanya untuk mengatasinya kadang-kadang dikembalikan ke jalan-jalan kerukunan yang munafik, cara-cara hipokrit yang suatu saat akan menjadi bom waktu dan meledak yang mengakibatkan clash lebih parah.
Kerukunan yang harus kita lakukan adalah kerukunan yang ihlas, sesuai dengan keyakinan masing-masing, tidak boleh menyudutkan satu pihak untuk menenggang pihak yang lainnya walaupun hal itu sudah diketahui kalau memang bertentangan dengan imannya. Kalau kita memang bersedia hidup di dalam berbagai macam perbedaan yang kompleks, maka kita juga harus bisa menghargai dan memberikan rasa ihlas yang dalam untuk bisa berkehidupan dengan nyaman dan damai.

Masing-masing pihak yang berkehidupan dan berkangsaan di Indonesia harus bisa menyadari bahwa ajaran agama, khususnya tentang iman dan ketuhanan adalah sangat berbeda dan tidak mungkin untuk dikompromikan. Keimanan dan Ketuhanan masing-masing agama pastinya sangat berbeda. Dalam hal ini sangat tidak mungkin lagi untuk dilakukan usaha ke arah Pantheonisme, penyembahan kepada semua Tuhan yang berbeda kepercayaan.

Masing-masing pihak mengakui tentang hak dan kewajiban para pimpinan agama lain untuk mengajarkan agamanya bagi penganutnya sendiri. Walaupun agama itu seakan-akan mencela agama yang kita anut, dikarenakan perbedaan yang Contrary tersebut. Misalnya, seorang pendeta Kristen yang sedang berkhotbah di depan umatnya dan mengatakan bahwa Muhammad adalah contoh Nabi palsu, karena hal ini memang terdapat dalam kitab mereka. Maka kita sebagai umat Islam, tidak boleh tersinggung dan mengadukan hal ini sebagai penghinaan terhadap ajaran Islam. Demikian juga halnya, jika seorang ustad yang sedang mengajar di depan umat Islam, mengatakan bahwa siapa saja yang mempertuhankan Isa adalah musyrik. Maka tidak boleh seorang pun umat Kristen tersinggung dan mengadukan hal itu sebagai pelecehan terhadap agama Kristen.

Masing-masing pihak hendaknya bisa menenggang pihak agama lain. Sekali lagi, kita berkehidupan dan berkebangsaan Indonesia yang memiliki berbagai macam adat dan kebiasaan. Maka sebagai umat beragama yang iman, kita harus bisa menghargai juga kepentingan orang-orang beragama lain. Misalnya, umat Islam janganlah berdzikir menggunakan pengeras suara pada tengah malam atau dini hari. Orang yang sekeyakinan saja ada yang merasa terganggu, apalagi kalau di sekitar kita tidak hanya umat yang sekeyakinan dengan kita.

Masing-masing pihak mengakui bahwa pihak lain dituntut oleh agamanya untuk menyiarkan pada pihak yang lainnya. Tetapi hendaknya setiap pihak melakukan penyiarannya jangan sampai melanggar adat kebiasaan setempat, apalagi menggunakan motif kelemahan pada sisi ekonomi suatu masyarakat. Janganlah mempengarui orang-orang dhuafa’ dan anak-anak yang memang masih kurang perhatiannya dalam soal agama.

Inilah sedikit yang biasanya kita lupakan, sehingga seperti yang kita telah ketahui bersama, dengan sedikit pemicu saja sudah bisa terjadi sebuah pergolakan yang didasari agama. Semoga bisa bermanfaat.



M. Lubis Cadiawan,S.S.
Artikel ini telah dimuat di majalah MISI
Staf pengajar SMA Nurul Jadid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar